Kendala Bahasa Inggris Seorang Freelancer

Saya perhatikan belakangan ini ada cukup banyak pertanyaan-pertanyaan seputar Upwork yang sebenarnya sudah ada penjelasannya di web resmi Upwork. Sepertinya harus kita akui bahwa spirit membaca generasi zaman now mulai menurun. Tapi kita juga harus sadar bahwa salah satu kunci sukses seorang pekerja remote adalah membaca.

Bagaimana kita bisa mengerjakan sebuah pekerjaan dengan baik jika membaca saja malas? Ada berbagai alasan yang diutarakan para pekerja remote ketika mereka kedapatan malas membaca. Salah satu alasan yang paling sering saya dengar adalah minimnya kemampuan ber-bahasa Inggris. Come on guys! Di dunia kerja global seperti sekarang ini, bahasa Inggris adalah salah satu syarat utama yang harus dimiliki. Saya yakin, jika ada kemauan, pasti ada jalan.

Yang Saya Lakukan

Kali ini saya akan mencoba fokus membahas tentang solusi terkait minimnya kemampuan berbahasa Inggris yang seringkali dijadikan alasan. Let me tell you my story (yang artinya: ijinkan saya menceritakan kisah saya).

Sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, saat saya masih kerja kantoran, kemampuan berbahasa Inggris saya juga masih minim. Namun, karena saya sudah cukup lelah dengan status outsource, lelah dengan kemacetan saat berangkat dan pulang kerja, dan kelelahan-kelelahan lainnya, akhirnya saya bertekad untuk bisa resign.

Saya sadar bahwa saya manusia, bukan pohon. Dan salah satu keuntungan sebagai manusia adalah saya bisa pindah ke tempat lain ketika saya sudah lelah di satu titik.

Apakah ada manusia yang tidak sadar bahwa dirinya adalah manusia?

Sepertinya cukup banyak. Orang-orang yang mengeluh tanpa bertindak adalah salah satu tanda bahwa mereka tidak sadar bahwa mereka bukan pohon.

Oke, sudah dulu pembahasan mengenai pohonnya. Kita kembali ke topik. Setelah saya yakin untuk resign, saya mulai melakukan hal-hal “aneh”. Yep! Tidak sedikit rekan sekantor yang menganggap saya aneh dan kurang kerjaan. Apa yang saya lakukan kala itu? Salah satunya adalah menjadi penerjemah subtitle film secara cuma-cuma.

Saat itu film bajakan masih jadi primadona. Saya sangat istiqomah mendownload film dengan format .mkv dan mendownload subtitle di sebuah website subtitle bernama SubScene. Dari situ, saya biasanya mendownload subtitle berbahasa Inggris, lalu saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia, kemudian saya upload ulang sebagai versi Bahasa Indonesia. Tentu ini bukan pekerjaan gampang. Butuh waktu berjam-jam untuk menerjemahkan ribuan baris subtitle untuk satu judul film.

Tak jarang saya ditertawakan karena dianggap kurang kerjaan. Tapi saya tidak peduli karena saya punya target yang jelas.

Singkat cerita, sekitar satu tahun kemudian, saya mulai terjun ke dunia internasional dan akhirnya berhasil mendapatkan klien pertama saya.

Selain dari menjadi relawan penerjemah subtitle film, hal lain yang saya lakukan adalah dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris. Cara lain adalah dengan mendengarkan radio berbahasa Inggris. Salah satu radio berbahasa Inggris favorit saya adalah Class95 Singapore. Dengan rajin mendengarkan percakapan berbahasa Inggris, kuping dan otak kita jadi terbiasa. Otomatis, kita akan lebih mudah dan cepat mencerna kalimat-kalimat berbahasa Inggris.

Apakah masih ada cara lain? Yep, ada. Yaitu dengan menonton film dengan menggunakan subtitle berbahasa Inggris. Dengan begini, kita bisa mensinkronisasikan antara mata dan telinga. Selain film, saya juga sering menonton presentasi, keynote dan seminar berbahasa Inggris di YouTube. Favorit saya adalah keynote Gary Vaynerchuk dan TedTalk.

See? Sebenarnya ada banyak cara jika kita serius ingin belajar. Belakangan saya juga mulai meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris dengan merekam jurnal harian. Hal ini saya lakukan karena menurut saya tidak ada cara lain untuk melatih speaking selain dengan bicara.

Yang Saya Dapatkan

Dengan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, diharapkan kita bisa lebih jeli membaca aturan main, deskripsi pekerjaan dan lain sebagainya. Saya selalu berusaha seteliti mungkin dalam mengerjakan setiap proyek yang saya dapatkan.

Hasilnya? Berikut screenshot dari salah satu feedback yang pernah saya dapatkan di Upwork:

Salah satu poin penting di sini adalah “No multiple back and forths, just gets it done and usually on the first try.”

Intinya, klien senang karena saya tidak pernah membuatnya menjelaskan berulang-ulang. Ini adalah salah satu buah hasil dari ketelitian dan keseriusan dalam mengerjakan sebuah pekerjaan.

Salah satu klien saya juga pernah mengatakan bahwa saya memiliki kemampuan komunikasi yang bagus:

Kesimpulan

Komunikasi adalah salah satu komponen terpenting dalam kerja remote. Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk mengerti keinginan dan kebutuhan klien. Jangan sampai klien minta A, kita memberinya Z. Pahami baik-baik apa yang mereka mau.

Jika masih suka mengutarakan keluhan seperti “Saya nggak jago Bahasa Inggris.” atau “Saya sulit memahami Bahasa Inggris.”, maka pilihannya ada dua. Pertama, berhenti bermimpi menjadi freelancer skala internasional. Kedua, berusaha memperbaiki kemampuan ber-bahasa Inggris. Silakan tentukan pilihan dan jangan buang waktu terlalu lama hanya untuk mengeluh. 😉

Semoga tulisan kali ini bisa memotivasi rekan-rekan freelancer untuk bisa lebih rajin membaca dan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Have a great day!

Udah join di FP kita belum?

Recent Posts