Kopi Pertama di Tahun 2018

Pagi ini, saya berada di Premier Place Hotel Surabaya Juanda. Sambil menikmati secangkir kopi pertama di tahun 2018, saya mencoba memberanikan diri untuk benar-benar merilis blog ini dan mulai menulis.

Blog yang sederhana ini saya dedikasikan untuk teman-teman pekerja kantoran yang masih merasa kurang dengan gajinya, merasa lelah dengan kemacetan yang harus dihadapi setiap harinya, merasa lelah dengan tekanan-tekanan yang ada di kantor dan untuk teman-teman yang ingin berubah ke arah yang lebih baik.

Keinginan untuk berubah bukan berarti tidak bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Hijrah adalah perintah. Bergerak ke arah yang lebih baik adalah keharusan bagi setiap orang. Hidup hanya sekali. Kita harus belajar setiap harinya, memperbaiki diri setiap harinya. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama, lagi, lagi dan lagi.

Pagi ini, 1 Januari 2018, tepat 3 tahun sejak saya resign dari kerja kantoran dan mulai bekerja remote. Bagi teman-teman yang belum paham apa itu kerja remote, saya akan mencoba menjelaskan sedikit. Kerja remote adalah pekerjaan yang dilakukan secara remote. Remote di sini maksudnya adalah tidak harus bertatap muka langsung dengan si pemberi kerja. Kita para pekerja, bisa bekerja dimana saja. Bisa di cafe, restoran, hotel, rumah dan tempat-tempat lainnya yang menurut kita pas untuk bekerja.

Lalu, pekerjaan apa yang bisa dilakukan secara remote? Dari informasi yang pernah saya pelajari, semua pekerjaan yang bisa dilakukan dengan komputer, bisa dilakukan secara remote. Contoh : Web Designer, Web Developer, Writer, Tester dan sebagainya.

Dulu, saya berangkat ke kantor jam 6 pagi dan pulang jam 7 malam. Saya tidak punya banyak waktu untuk berkumpul dengan anak & istri. Tidak jarang, ketika pulang kantor saya harus melewati genangan air yang cukup tinggi (baca: banjir). Bergelut dengan kemacetan pun sudah biasa.

Sampai pada suatu ketika saya mulai merasa lelah dan batin saya berteriak, “Bagaimana caranya agar saya bisa keluar dari semua ini?”. Di tengah kemacetan, tidak banyak yang bisa kita lakukan selain bersabar. Saat terjebak macet, saya sering menatap ke atas dan mulai berhayal, “seandainya saya bisa terbang, pasti saya bisa dengan mudah melewati tumpukan kendaraan di depan saya ini.”.

Hari demi hari berlalu dan saya mulai sadar bahwa terbang bukanlah pilihan. Akhirnya saya menemukan ide lain agar bisa terbebas dari kemacetan, banjir dan kawan-kawannya.

Dalam hati, saya kembali berkata, “Jika saya tidak ingin terjebak dalam kemacetan seperti ini, maka saya harus terbang. atau, saya bisa bekerja dari rumah.”

Dari sinilah ide ini muncul. Dari sinilah semangat untuk bekerja remote semakin menggebu-gebu. Tidak lama berselang saya menemukan sebuah grup di Facebook yang bernama Kami Kerja Remote. Grup ini sangat menginspirasi saya dan membuat saya makin mantap untuk meninggalkan kantor dan mulai bekerja di rumah. Terima kasih untuk kang Rahmat Awaludin dan teman-teman remote worker lainnya.

Dan hari ini, 3 tahun berlalu. Saya merasa kehidupan saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Sejak saya resign dari kantor dan mulai bekerja remote, saya jadi memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga, lebih banyak income dan lebih banyak waktu luang. Tenaga dan waktu saya tidak perlu lagi terbuang percuma di kemacetan.

Kerja remote adalah bagian perkembangan zaman. Saya membuat blog ini untuk berbagi tentang hal-hal apa saja yang saya alami dan saya pelajari setiap harinya sebagai pekerja remote. Semoga ada hikmah, pelajaran dan hal-hal bermanfaat lainnya yang bisa dipetik dari blog ini.

“If you hate traffic jam, just fly. or work from home.”

Salam hormat,
Hendra Setiawan

Udah join di FP kita belum?

Recent Posts