Ongkang-Ongkang Kaki Dapat Gaji Dollar

Para pekerja remote seringkali menjadi bahan olok-olok atau gunjingan tetanga. Penyebabnya adalah gaji mereka yang relatif tinggi, mayoritas di atas UMR, bahkan tak jarang ada yang setara atau melebihi tunjangan para pejabat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), sedangkan mereka tidak pernah pergi ke kantor. Hal ini membuat para tetangga bertanya-tanya, bahkan tidak sedikit yang suudzon. Dari mana mereka mendapatkan penghasilan? Memelihara tuyul kah? Atau jangan-jangan mereka tergabung dalam jaringan teroris? Hmm.

Bicara soal teroris, pasca serangan teroris yang terjadi di Surabaya beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca artikel terkait ciri-ciri orang yang mungkin terlibat tindakan terorisme. Yang menggelitik saya adalah salah satu poin yang menyebutkan bahwa para teroris biasanya sering di rumah dan pekerjaannya tidak jelas.

Bagi sebagian orang, pekerjaan remote masih sangat aneh dan masuk kategori “tidak jelas”. Karena artikel tersebut, saya merasa jadi tidak nyaman karena khawatir dikira macam-macam oleh tetangga. Haha~

Tapi, apakah benar pekerja remote hanya “ongkang-ongkang kaki” lalu dapat uang begitu saja? Ternyata tak semudah itu. Ada banyak challenges yang harus dihadapi para remote worker.

Kesulitan Membagi Waktu

Bagi para pekerja remote, pengelolaan waktu yang baik adalah salah satu kunci utama untuk sukses. Tak jarang, boss atau client yang tak tampak secara kasat mata, membuat mereka mudah untuk tergoda menunda-nunda pekerjaan. Saat itu terjadi, apalagi sampai berlarut-larut, maka tunggulah kehancuran. Tumpukan pekerjaan menjelang deadline akan membuat para remote worker ini semakin jarang bersosialisasi di luar. Resikonya, mereka bisa dikira teroris, anti sosial dan sebagainya — karena tetangga mengira bahwa mereka hanya ongkang-ongkang kaki di rumah.

Badan Diam, Tapi Otak Kemana-Mana

Kerja remote bukanlah kerja fisik. Para remote worker biasa menghabiskan berjam-jam duduk di depan komputer, layaknya seseorang yang sedang bertapa. Hal ini kerap membuat para tetangga dan orang-orang sekitar berpikir bahwa kita ‘santai’ dan tidak capek. Padahal itu tak sepenuhnya benar. Badan mereka memang diam, tapi otak kemana-mana. Fisik diam, tapi otak bekerja dengan sangat keras. Walhasil, di sore atau malam hari, ketika pekerjaan selesai, badan pun jadi ikut terasa lelah karena kerja otak juga mempengaruhi seluruh organ tubuh yang lainnya. Jadi, biarpun para remote worker ini hanya “ongkang-ongkang kaki”, tapi otak mereka bekerja keras bagai kuda.

Pada dasarnya, remote worker tak hanya ongkang-ongkang kaki lalu mendapatkan uang begitu saja. Mereka harus bekerja keras dengan otak dan kreativitas tanpa batas. Fisik mereka memang cenderung tak banyak gerak, namun di balik semua itu, ada banyak tekanan pada jiwa dan pikiran mereka. Persaingan sangat ketat. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan remote worker di seluruh dunia, bahkan ada yang nekat memberikan harga super murah demi meraih hati client. But at the end, client akan kembali kepada pekerja-pekerja yang berkualitas, meskipun harus membayar mahal.

Dear rekan-rekan sesama pekerja remote, kira-kira ada kesulitan apa selama bekerja? Ada yang mau menambahkan? Yuk dishare di sini! 🙂

Udah join di FP kita belum?

Recent Posts