Pekerja Zaman Now Butuh Olahraga dan Nutrisi

Januari 2018 lalu, saya sempat memposting sebuah pertanyaan ke grup Kami Kerja Remote terkait dengan olahraga apa yang biasa dilakukan teman-teman sesama pekerja remote. Maklum, sebagai ‘kuli komputer’, sebagian besar waktu dalam sehari pastinya dihabiskan di depan komputer, tanpa banyak bergerak. Padahal, tubuh kita butuh bergerak.

Postingan saya di grup KKR (Kami Kerja Remote)

Sebenarnya, kegundahan saya tentang olahraga ini sudah tertahan sekian lama. Jika boleh saya flashback sedikit, sebenarnya ada beberapa kejadian yang mendorong saya untuk lebih menjaga kesehatan. Tahun lalu, ada 2 orang kenalan saya yang meninggal dunia di usia yang relatif muda. Yang pertama, meninggal karena terkena kanker. Yang kedua, meninggal dunia setelah bertahun-tahun mengidap penyakit TBC.

Yep! Urusan jodoh, umur & rizki memang urusan Allah, tapi jangan lupa bahwa ikhtiar kita juga dituntut di situ. Seberapa baik kita menjaga badan yang sudah dititipkan oleh Allah untuk kita? Pernahkah kita introspeksi diri?

Sebelum sadar akan hal ini, saya suka ‘jahat’ terhadap badan saya. Makan sembarang makan, minum sembarang minum, tidur sembarang tidur, tak jarang hanya 3 s.d 4 jam per hari, padahal tubuh kita memerlukan setidaknya 7 jam istirahat per hari.

Anak Sakit, Saya Ikut Sakit

Oktober 2017, anak saya terkena DBD dan harus diopname di Rumah Sakit. Di situasi genting seperti itu, saya malah ikutan sakit. It was ridiculous! Karena sistem imun saya yang begitu lemah, saya langsung ngedrop setelah begadang 2 hari berturut-turut + stress melihat anak sakit. Dan yang lebih parahnya lagi, saat itu istri saya sedang hamil 8 bulan. Saya benar-benar merasa bodoh karena di saat keluarga saya membutuhkan saya, saya malah ikut-ikutan sakit.

Dari kejadian itu saya mulai introspeksi diri lagi. Tapi sayangnya, niat untuk hidup sehat hanya tinggal niat. Saya tidak pernah merealisasikan niat saya untuk olahraga, menjaga pola makan dan istirahat. Ya, saya kembali sembrono dan tidak mempedulikan kesehatan saya.

Sakit (Lagi)

Sekitar 3 bulan kemudian, saya kembali sakit. Hal ini tidak lain karena lagi-lagi niat saya untuk berubah hanya tinggal niat. Kemalasan saya akhirnya harus saya bayar dengan penyakit baru. Saat itu saya terkena gondongan (mumps).

Butuh waktu lebih dari seminggu bagi saya untuk bisa survive dari penyakit ini. Selain gondongan, saat itu saya juga menderita maag. Mengapa? Karena gondongan membuat saya sulit makan dan obat anti virus yang diberikan oleh dokter juga memberikan efek samping ke lambung, hingga lambung saya K.O.

Seminggu lebih saya menderita. Tidak hanya fisik yang tertekan, tapi juga pikiran karena ada beberapa project yang harus tertunda dan saya harus bisa menjelaskan ke client untuk meminta tambahan waktu.

Recovery

Sekitar pertengahan bulan Februari 2018, saya mulai kembali fit. Kali ini, saya tidak mau menunda-nunda lagi. Saya mulai perubahan dengan menjaga waktu tidur. Saya yang biasanya tidur selalu di atas jam 12 malam, mulai saat itu mulai disiplin tidur maksimal jam 10 malam. Bahkan kadang jam 9 malam saya sudah masuk kamar dan beristirahat.

Selanjutnya, saya mulai rutin berolahraga. Sekitar 2–3x seminggu saya sempatkan untuk jogging keliling komplek dan sesekali bermain basket.

Pertengahan Maret 2018, saya memutuskan untuk pergi ke gym. Kebetulan jarak dari rumah ke gym hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Saya investasikan sebagian rizki saya untuk membayar biaya membership selama setahun, sehingga saya bisa rutin berolahraga di sana.

Mengapa Saya Memilih Gym?

Setelah memposting pertanyaan di grup KKR, saya mendapat beberapa masukan tentang olahraga apa saja yang bisa saya lakukan, mulai dari futsal, badminton, jogging hingga menggunakan aplikasi freeletics.

Namun, dari semua pilihan itu, saya akhirnya memilih gym. Mengapa?

Di Gym, saya harus bayar biaya membership (dan lumayan mahal ~ menurut saya). Karena bayar, otomatis saya akan rajin pergi ke gym karena akan ada perasaan bersalah (mubazir) jika tidak digunakan.

Di Gym, kita tidak hanya angkat-angkat beban saja, tapi juga diajari tentang menjaga nutrisi. Menjaga nutrisi ini juga sangat penting untuk kesehatan karena apa yang kita makan sehari-hari bisa menentukan apakah kita akan sehat atau penyakitan.

Karena saya tiap hari kerjanya hanya di depan komputer, maka saya merasa bahwa badan saya perlu bekerja lebih keras. Di Gym, saya bisa menggerakkan seluruh otot badan, mulai dari atas sampai bawah. Saya pernah ikut futsal, tapi yang bekerja paling banyak hanya bagian tubuh tengah ke bawah. Tangan, bahu, punggung? Rata-rata nganggur.
Sebagai bonus, selain jadi lebih sehat, dengan rutin ke gym bentuk badan juga nantinya akan jadi lebih bagus. Hal pertama yang dirasakan biasanya badan jadi lebih tegak.

Gak takut dilirik kaum LGBT?

Hehe. Pertanyaan ini yang paling sering saya dengar. Sebenarnya, kaum LGBT itu tidak hanya ada di gym, tapi juga di tempat-tempat lain. Awalnya saya juga khawatir, tapi ternyata kenyataannya tidak seburuk itu. Bahkan sebaliknya, personal trainer saya alhamdulillah seorang lelaki sejati dan muslim taat. Beliau libur di hari Jum’at agar bisa sholat Jum’at dengan khusyuk.

Selain itu, saya pernah bertemu beliau di sore hari menjelang magrib. Saat itu beliau sedang ngajar di gym, saat adzan berkumandang, beliau tinggalkan gym dan langsung ke mushola. Terus terang saya salut dengan kedisiplinan beliau, meskipun sedang bertugas sebagai personal trainer, tapi beliau tetap mengutamakan ibadah saat waktunya sudah tiba.

Kesimpulan

Sebagai pekerja zaman now yang sehari-hari berhadapan dengan komputer, kita sangat-sangat butuh olahraga dan menjaga nutrisi. Jika tidak, maka tunggulah kehancuran.

Beberapa perubahan yang sudah saya lakukan yang mungkin bermanfaat buat teman-teman antara lain :

  1. Menjaga pola istirahat. Berikan tubuh kita haknya untuk beristirahat. Pastikan kita tidur maksimal jam 10 malam. Tenang, pekerjaan masih bisa ditunda besok pagi. Everything’s gonna be okay. Trust me.
  2. Menjaga pola makan. Kurangi goreng-gorengan, kurangi micin, snack, dll. Saya mengganti cemilan saya dengan buah-buahan seperti pisang atau apel. Hindari soft drink, karena gulanya sangat tinggi. Jika tetap mau soft drink sesekali, coba yang zero sugar. It’s better.
  3. Rutin berolahraga. Saya ke gym 4x seminggu. Kadang pagi, kadang sore, tergantung kondisi dan situasi. Tapi intinya, harus disiplin. Ingat, badan kita butuh bergerak. Jika sedang tidak jadwal ke gym, biasanya saya membawa anak-anak jalan santai ke taman dekat rumah. Intinya, gerak!

Sebagai penutup, berikut ada beberapa quotes menarik dari Ade Rai.

“Sakit itu ibarat orang yang jatuh tertimpa tangga. Udah gak enak, harus bayar pula. Ditraktir aja kita nggak mau.” — Ade Rai

“Sehat itu menjadi mudah dan murah ketika kita memilikinya, namun menjadi mahal dan sulit ketika ia sudah meninggalkan kita.” — Ade Rai

Jadi, mau nunggu sakit seperti saya dulu baru tobat, atau mau langsung action? 🙂

Semoga sharing kali ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan, silakan dituliskan. Insya Allah saya jawab.

Udah join di FP kita belum?

Recent Posts