Tips Memilih Client di Upwork

Selain bisa tidur siang setiap hari dan bisa Jum’atan menggunakan baju koko lengkap dengan sarung dan peci, kenikmatan haqiqi seorang pekerja remote yang lain adalah kebebasan untuk memilih klien. Yep! Seorang pekerja remote bebas untuk memilih dengan siapa mereka ingin bekerja. Namun, terkadang ini juga menjadi hal yang rumit, terutama bagi yang masih baru terjun ke dunia freelancing. Di artikel kali ini saya akan spesifik membahas tips memilih klien di Upwork. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa tips ini juga bisa diaplikasikan di platform lain.

Di Upwork, ada beberapa informasi penting tentang klien. Informasi ini bisa kita dapatkan ketika kita akan melamar ke project yang diposting oleh si klien. Mari kita bahas satu per satu.

Payment (Verified atau Unverified)

Bagian ini cukup penting mengingat di sinilah titik yang menentukan apakah hasil jerih payah kita akan dibayar atau tidak. Logika simpelnya kurang lebih begini, bagaimana klien bisa membayar kita jika metode pembayarannya saja belum diverifikasi? Karena alasan inilah biasanya saya lebih prefer ke klien yang metode pembayarannya sudah diverifikasi oleh sistem Upwork atau biasa disebut dengan Payment Verified.

Tapi, jangan terlalu arogan juga dengan meng-generalisasi bahwa semua klien dengan status Payment Unverified itu jahat. Tentu tidak. Kemungkinannya adalah bisa jadi status si klien Unverified karena mereka baru mendaftar di Upwork dan belum sepenuhnya memahami cara kerja Upwork. Biasanya di sesi interview – sebelum project dimulai, kita bisa memberikan pencerahan ke klien dengan meminta mereka untuk menyelesaikan proses administrasinya terlebih dahulu.

Tenang, klien tidak akan keberatan jika kita menuntun mereka pada kebenaran. Yang tidak boleh dilakukan adalah meminta klien melakukan pembayaran di luar Upwork, misal pembayaran langsung lewat PayPal. Jika hal ini dilakukan, maka tunggulah kehancuran. Akun kita bisa dibanned seumur hidup oleh Upwork dan jerih payah kita akan sia-sia.

Rating / Review

Poin selanjutnya adalah rating atau review dari si calon klien. Sebagai salah satu aturan main di Upwork, pada saat klien dan freelancer menyelesaikan kontraknya, mereka berhak untuk memberikan penilaian satu sama lain. Dari sini, kita bisa melihat track record dari si klien.

Saya sarankan, jangan coba-coba mengadu nasib dengan klien yang ratingnya di bawah tiga karena biasanya mereka memiliki sejarah kelam. Tapi, kalau Anda ingin merasakan pahitnya bekerja dengan bad client, silakan dicoba.

Rating (jumlah bintang) dan review (ulasan) dari freelancer sebelumnya menjadi salah satu acuan terpenting bagi saya sebelum saya memutuskan untuk meng-apply ke sebuah proyek di Upwork.

Total Spent dan Average Hourly Rate

Setelah Payment dan Review aman, bagian selanjutnya yang selalu menjadi perhatian saya adalah Total Spent dan Average Hourly Rate. Dari sini kita bisa melihat seberapa loyal si calon klien kepada freelancernya.

Bagi yang masih baru terjun ke Upwork dan masih di tahap pencarian jati diri (baca: rating) mungkin bagian ini tidak terlalu penting untuk dijadikan acuan karena biasanya freelancer baru lebih fokus ke mengumpulkan portfolio dan reputasi daripada uang. Tentu ini adalah bagian dari strategi. Tapi sekedar untuk diketahui bahwa bagian ini juga penting untuk dijadikan salah satu parameter untuk mempertimbangkan apakah si klien ini termasuk dream client atau bad client.

Hire Rate

Hire rate adalah rasio keseriusan klien terhadap jumlah proyek yang dipostingnya. Misal, Pak Eko memposting 10 proyek, namun hanya 5 yang benar-benar berjalan sedangkan 5 lainnya diabaikan begitu saja. Dalam kondisi seperti ini, pake Eko akan mendapatkan hire rate 50%.

Mungkin ada yang bertanya, lalu proyek yang 5 tadi kok bisa diabaikan begitu saja sama Pak Eko? Ada berbagai alasan, biasanya karena Pak Eko sudah mendapatkan freelancernya di luar Upwork, mendadak berubah pikiran dan membatalkan proyeknya dan sebagainya. Yang jelas, pertanyaan seperti ini tidak perlu ditanyakan karena jika Anda nekat mencari tahu maka Pak Eko akan menjawab, “Apa urusan Anda menanyakan itu?!” ūü§£

Intinya, biasanya saya hanya akan yakin kepada klien jika hire rate mereka di atas 70%. Di bawah itu, mohon maaf, nggak masok Pak Eko!

Mengapa? Karena biasanya klien cenderung menghilang tanpa jejak dan tidak serius mengelola proyek yang dipostingnya. Jangan sia-siakan connects kita untuk klien semacam ini.

Lokasi

Poin ini cukup penting, namun agak rasis jika saya bahas di sini. Jadi untuk yang belum paham bagian ini, silakan tanya secara personal ke teman-teman sesama freelancer. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada negara-negara yang cenderung “jahat” terhadap para freelancer.

Demikian share kali ini, semoga bermanfaat untuk teman-teman yang masih bingung menyeleksi kliennya.

Udah join di FP kita belum?

Recent Posts